Perkutut Katuranggan | Ocehan Kenari -Ada rekan yang bertanya mengenai bagaimana membedakan perkutut katurangga yang baik dan tidak baik, untuk itu saya bahas lagi disini, pada artikel sebelumnya juga pernah saya posting. 

Burung Perkutut dapat disebutkan adalah pemenuhan kepuasan atau kesenangan pribadi. Nada anggungannya bisa berikan situasi tenang, teduh, enjoy bahagia serta seakan-akan pemiliknya bisa terkait dengan alam semesta dengan secara langsung. Kian lebih itu, perkutut tenyata mempunyai kelebihan mengagumkan lantaran dikira mempunyai kemampuan gaib yang bisa memengaruhi pemiliknya menurut katuranggan atau ciri mathi, hingga diakui mempunyai dampak baik (membawa keberuntungan) atau jelek (membawa sial) untuk yang memiliki atau si pemelihara.

Untuk tahu baik atau tidaknya seekor perkutut, bisa di tilik menurut katuranggan (ciri fisik seperti wujud badan, bulu, paruh, kaki) serta ciri mathi (karakter, tingkah laku serta pada waktu berbunyi). Perkutut yang manggung menyambut terbitnya matahari (gedong mengo), juga yang manggung mengikuti terbenamnya matahari (gedong minep) atau dari susunan bunyinya (widana sreku/widah sana gasta gasti), benar-benar baik dipelihara lantaran bakal menghadirkan rejeki atau menambah derajat pangkat.

Hal semacam ini juga berlaku untuk perkutut yang berbulu putih di dalam kepala (satria kinayungan), perkutut jambul (songgo ratu), bulu ekornya 15 lembar (pandawa mijil), matanya bercahaya kuning (mercu juwa). Sedang perkutut yang semua bulunya putih bersih atau hitam legam yang dikira rajanya perkutut, bila dipelihara bakal memberukan keberuntungan.

Pertukut yang ekornya ada satu bulu putih (buntel mayit), berbulu semu merah (brama susur), berbulu kuning kemerahan (brama labuh geni), berbulu semu hitam (wisnu kucem), bulu pundak putih (candala cabda), manggung-nya tengah malam (durga duwuh) atau siang malam (durga ngerik), konon tak baik dipelihara lantaran pengaruhnya jelek untuk si yang memiliki/pemelihara.

Perkutut Katuranggan
Katurangga datang dari kata kautur ( mengemukakan) serta angga ( tubuh). Jadi katurangga yaitu pengetahuan wujud bentuk tubuh burung perkutut. Bagi pengagum burung perkutut tempo dahulu, katuranggan benar-benar memegang fungsi utama (selain bunyi suaranya) dalam menentukan burung bakalan untuk jadikan burung kesayangannya.

Umumnya, perkutut katuranggan dihubungkan dengan perkutut lokal yang dipercaya memiliki " kemampuan gaib " menurut keyakinan beberapa orang tempo dahulu terlebih orang-orang kebiasaan jawa serta bukan hanya perkutut silang atau kerap dimaksud dengan Perkutut Bangkok yang yang banyak dipandang serta dipelihara waktu ini di mana dipercaya telah tak akan mempunyai kemampuan gaib sesuai sama dengan pikiran orang-orang moderen.

Rutinitas nikmati bunyi " anggungan " perkutut ini diawali dari masa Majapahit serta memanglah burung yang satu ini pada saat itu cuma dipelihara oleh kelompok ningrat kerajaan yang makin di kembangkan pada waktu kraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada tahun 1877-1921.

Perkutut juga dipercaya untuk bilangan ke lima dari kelengkapan seseorang pria sejati yang prima dalam kebiasaan jawa yang berlatar kebudayaan keraton yakni : Wisma (rumah), Garwa (istri), Berprasangka buruk (keris), Turangga (kuda), serta Kukila (Perkutut). Itulah kenapa benar-benar susah juga nyaris langka mencari peternak burung perkutut katuranggan dibanding peternak perkutut bangkok.

Post a Comment

 
Top